Kepada Al-Khayyath, lelaki yang shalih, Amirul Mukminin mengatakan, “Setiap kali kamu melihat kemungkaran kecil maupun besar, meskipun dilakukan oleh pihak kepolisian, maka beritahukanlah aku jika memang ada waktu bagimu untuk menemuiku. Jika tidak, maka berilah tanda antara aku denganmu dengan mengumandangkan adzan. Kumandangkanlah adzan kapan pun kamu mau, bahkan saat tengah malam seperti ini.”
“Sungguh aku tidak mengetahui bahwa pemuda itu putra Ar Rasyid hingga dia sendiri yang memberitahuku" Abdullah bin [Selengkapnya...]
INFO TERKAIT
Kategori: Motivasi Salaf
<strong>Minum Susu Antelop Tanpa Susah Payah</strong>
Setelah itu ia duduk berbincang-bincang denganku. Hingga ketika matahari hampir tenggelam, berkumpul banyak antelop (sejenis kijang) di sekitarnya. Ia kemudian menangkap satu ekor, dan memerah susunya hingga wadah tersebut penuh susu. Setelah itu ia melepaskannya.
<strong>Uang Misterius</strong>
Ketika tiba waktu makan malam, aku memperhatikannya. Namun, aku tidak melihat apa-apa bersamanya. Setelah itu ia mengusap tangannya di atas sebuah tiang, lalu tiba-tiba ada sesuatu yang menempel diatas tangannya. Lalu ia menyerahkannya kepadaku. Ternyata itu adalah uang dirham, yang tidak seperti uang dirham pada umumnya.
<strong>Membelikan Rumah Di Surga</strong>
Sekembalinya dari Mekah, laki-laki Khurasan yang menitipkan uang itu menemui Habib, dan berkata, “Wahai Abu Muhammad, aku adalah pemilik uang 10.000 dirham itu. Aku tidak tahu apakah kamu sudah membelikan rumah untuk kami, atau kamu akan mengembalikan uangku itu untuk aku belikan sendiri.” “Aku telah membelikan sebuah rumah untukmu. Di dalam komplek rumah itu ada istana lengkap dengan aneka pohon, buah-buahan, dan sungai yang mengalir,” jawab Habib
<strong>Lelaki Berhati Mulia</strong>
Aku dan beberapa orang yang berada dalam kantor itu merasa aneh. Karena kebiasaan penghuni kantor tersebut, baik orang-orang dewasa maupun anak-anak, mereka tidak pernah berdiri untuk menyambut kedatangan siapa pun di antara hamba Allah. Ternyata ayah menyadari keheranan kami. Ayah kemudian berkata, “Wahai putraku. Jika sudah sepi, engkau boleh bertanya mengapa ayah berdiri untuk menyambut kedatangan laki-laki tadi.”
Tidak Ada Pos Lagi.
Tidak ada laman yang di load.


