Buletin Al Atsar Edisi Mei 2026 – Selalu Ada Alasan Untuk Tidak Berqurban
QURBAN DAN HATI YANG MASIH TERLALU MENCINTAI DUNIA
Hari ini, bukan hal sulit menemukan orang yang rela mengeluarkan uang belasan juta rupiah demi sebuah ponsel terbaru. Ia menanti peluncurannya, menyimak ulasannya, bahkan menabung berbulan-bulan agar bisa memilikinya. Namun tatkala Idul Adha tiba, ucapannya berubah drastis:
“Tahun ini belum bisa berqurban.”
“Masih banyak kebutuhan.”
“Insyaallah, tahun depan saja.”
Kalimat itu terdengar biasa, bahkan mungkin pernah terucap dari mulut kita sendiri. Padahal jika direnungkan, masalahnya sering kali bukan ketidakmampuan, melainkan hati yang belum tergerak untuk mendahulukan perintah Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ﴾
“Kalian tidak akan memperoleh kebaikan yang sempurna, sampai kalian menginfakkan sebagian dari apa yang kalian cintai.”
(QS. Ali ‘Imran: 92)
Ayat ini tidak berbicara soal harta sisa, melainkan hal yang benar-benar kita cintai. Di sinilah ujian terbesar seorang hamba berada.
Qurban Menguji Isi Hati
Berqurban bukan sekadar menyembelih hewan. Ia ibadah yang langsung menyentuh apa yang paling dicintai manusia yaitu harta kekayaan. Karena itu, hati yang terlalu lekat pada dunia akan terasa berat saat diminta berkorban.
Kita sering melihat hal yang menarik, banyak orang dengan mudah mengeluarkan uang besar untuk gaya hidup, hiburan, atau barang yang tak terlalu dibutuhkan. Namun saat bicara soal qurban, hati mendadak penuh perhitungan dan keraguan.
Ada yang ringan membeli kopi mahal berkali-kali seminggu, namun berat menyisihkan uang untuk berqurban. Ada yang rela ganti ponsel padahal yang lama masih layak pakai, tapi selalu merasa “belum mampu” membeli seekor kambing untuk berqurban. Dunia kerap membuat hal sepele terasa mendesak, sementara amal akhirat terus kita tunda.
Padahal Allah telah mengingatkan:
﴿الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ﴾
“Setan menakut-nakuti kalian dengan ancaman kemiskinan.”
(QS. Al-Baqarah: 268)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan, salah satu tipu daya setan paling ampuh adalah menanam rasa takut miskin setiap kali manusia berniat berinfak atau taat. Maka jangan heran jika setiap Idul Adha, alasan selalu muncul: kebutuhan belum selesai, uang belum cukup, nanti saja tahun depan, dan alasan lainnya. Padahal kebutuhan dunia tak akan pernah habis.
Belajar dari Keteguhan Nabi Ibrahim AS
Saat Allah mensyariatkan qurban, Beliau memulainya bukan dengan kisah hewan, melainkan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau diuji dengan hal paling berharga, yakni putra kandungnya sendiri.
Allah berfirman tentang jawaban putranya:
﴿يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ﴾
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”
(QS. As-Saffat: 102)
Saat itu tak ada tawar-menawar, tak ada penundaan. Yang ada hanya kepatuhan mutlak. Coba bandingkan dengan diri kita hari ini. Allah tidak meminta anak tercinta. Allah tidak meminta seluruh harta. Dia hanya meminta sebagian kecil nikmat yang sesungguhnya berasal dari-Nya. Namun hati kita masih terasa berat untuk menaati-Nya.
Masalahnya Bukan Sekadar Harta
Banyak orang sederhana yang ringan untuk berqurban, sementara sebagian orang kaya justru selalu merasa belum mampu.
Mengapa? Karena hakikat qurban bukan soal banyaknya harta, melainkan ketundukan hati.
Rasulullah ﷺ bersabda:
﴿لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ لَابْتَغَىٰ ثَالِثًا﴾
“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia masih menginginkan yang ketiga.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Hati manusia tidak akan pernah puas dengan dunia. Jika kita baru mau berqurban setelah merasa hartanya “cukup”, kemungkinan besar kita tidak akan pernah melaksanakannya seumur hidup.
Sesuatu Yang Sampai Kepada Allah
Sebagian orang memandang qurban hanya sekadar rutinitas tahunan: beli hewan, sembelih, lalu bagikan daging. Padahal Allah menegaskan hakikatnya:
﴿لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ﴾
“Daging dan darahnya tidak sampai kepada Allah, namun yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Ibnu Katsir menjelaskan, yang dinilai Allah bukan besar kecilnya hewan, melainkan keikhlasan dan ketakwaan di dalam hati. Qurban sejatinya adalah latihan melepaskan keterikatan berlebihan pada dunia.
[]
Wallahu a’lam bishawab
Referensi
- Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Baqarah ayat 268.
- HR. Bukhari no. 6436 & Muslim no. 1048.
- Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Hajj ayat 37.


0 comments